Kali ini, saya akan memberitahu rahasia pemanfaatan sumber
daya manusia di negara negara maju. Dan di post ini, saya akan membahas tentang
gaya manajemen perusahaan Jepang. Seru bukan?
Hal ini tidak lepas dari peranan industri dalam memajukan
sektor ekonominya. Semua didasari semangak kaizen(berjuang) dan semangat
samurai yang menjadikan suatu kemenangan sebagai harga mati dan harus dicapai.
Ekonomi jepang tumbuh pada tahun 1950 an dan memuncak pada 1970 an. Banyak
orang yang terkagum kagum oleh gaya manajemen Jepang ini, Karena gaya tersebut
membuahkan kemakmuran yang dinikmati segenap rakyatnya. Ekonomi berkembang baik
sehingga kesejahteraan hidup pun meningkat. Rakyatpun dapat menikmati hasil pembangunannya. Dan itu didasari perkembangan perusahaan perusahaan yang
mengedepankan pemberdayaan karyawannya.
Pada 1990, CEO Sony: Akio Morita dan tokoh parpol
konservatif /gubernur Tokyo: Shintaro Ishihara, bersama sama membuat buku yang
berjudul”That Japan That can say NO”. Buku ini berisi tentang penguasaan Jepang
di kancah ekonomi Asia dan dunia, seharusnya diperhitungkan oleh beberapa
korporasi negara negara industri barat.
Perkembangan industri dunia pun mulai dipengaruhi oleh Jepang. Pernyataannya
terbukti saat perusahaan jepang seperti JVC, Sony, Panasonic, Toyota , dll
membanjiri amerika serta eropa. Pada dekade inilah, Perusahaan Jepang melakukan
ekspansi besar besaran ke Amerika.
Hal yang menarik adalah, rahasia mereka dalam berproses dan
besikap di tiap perusahaan. Sehingga
tiap perusahaan dapat mengatasi masalah finansialnya serta dapat berkekspansi
ke negara negara barat. Rahasi itu ialah, tiap insan perusahaan Jepang selal
mengaitkan identitas diri mereka pada identitas perusahaan tampat mereka bekerja.
Tak ada lagi Identita rasisme maupun agama, mereke semua bangga menjadi suatu
karyawan di suatu perusahaan. Dan mereka memiliki keyakinan bahwa tiap
pekerjaan mereka sangatlah berguna bagi kemajuan perusahan. Sehingga para
karyawan Jepang sangatlah senang jika kerja lembur serta malu jika tidak
memberikan kontribusi yang berguna bagi perusahaan. Mereka rela bekerja hingga
pagi hari, meskipun mereka tidak diberi uang lembur. Bagi mereka, apabila
perusahaan itu maju, maka mereka akan mendapat bonusnya dan buahnya. Mereka pun menjadi sangat bangga terikat
dalam suatu organisasi dan semakin loyal untuk bekerja di perusahaannya.
Kemauan bangsa Jepang menjadi hamba perusahaannya adalah
kunci kesuksesan dari Perusahan Jepang. Sikap ini ditunjukan dengan mengorbankan
pendapat pribadi, gaji, waktu istirahat dan mementingkan musyawarah-mufakat. Semua
mereka lakukan demi kemajuan perusahanannya. Berbeda dengan sikap di berbagai
negara yang memberikan ruang luas bagi aspirasi tia anggotanya, yang ujung
ujungnya membuat pertikaian dan bukannnya menyelesaikan suatu masalah
perusahaan. Hal itu pun berujung pada
masalah pribadi yang dikaitkan dengan masalah perusahaan, atau sebaliknya.
Gagasan di perusahaan tetap diterima, namun dalam proses mufakat yang berujung
pada kepentingan/ suara rakyat yang tepat dan benar. Sehingga seperti
perusahaan Canon yang menghemat jutaan dollar dari 14000 gagasan.
Buruh pun bisa melakukan ketidaksetujuan dan berdemo. Ini
adalah suatu hal yang wajar untuk sebuah era demokrasi. Buruh di Jepang bisa
melakukan mogok makan yang disebut dengan shunto.
Namun, shunto hanyalah suatu tradisi untuk mendapat kenaikan gaji. Dan tidak
pernah ada kericuhan karena tiap perusahaan Jepang selalu memberikan
kesejahteraan bagi para pekerjanya.
Pada akhirnya, secara garis besar, ada 3 pillar utama dalam
manajemen perusahaan Jepang. 3 hal tersebut ialah: Sistemkerja seumur hidup
pada satu perusahaan saja, senioritas, serta keadaan sosial perusahaan.
(Baskoro Winarno)
(Baskoro Winarno)
Lanjut ke Part 2




