HIKAYAT PAJAJARAN
Kali ini, saya akan membahas keprihatinan saya terhadap
kampung halaman saya. Kampung halaman,,,, kampung halaman, hometown..... oh
malangnya....
Cao Cao yang mendengar kemahiran
Hua Tuo kemudian mengutus bawahannya untuk meminta Hua Tuo menyembuhkan sakit
kepala menahun yang dideritanya. Namun, Hua Tuo tidak suka berdiam diri di
istana karena rindu kampung halaman dan kebebasan berkelana ke sana kemari.
Itulah sepenggal kisah Hua Tuo dari cina, sesosok tabib terkenal di masa Tiga Negara.
Itulah sepenggal kisah Hua Tuo dari cina, sesosok tabib terkenal di masa Tiga Negara.
Dari
kampung halaman daerah Scytia-Asia Kecil, Eumenes
(sang menteri dari Alexander Agung) selalu dirindukannya meski ditengah
deskriminasi Makedonia. Kampung halaman memang tempat yang paling nyaman, dan
menimbulkan nostalgia masa kecil.
10
10 1994, Saya dilahirkan di Kota Bogor, 40 km di selatan Jakarta. Saat itulah,
Bogor menjadi kota yang nyaman. Memang bukanlah kota suci seperti Madinah, Pampilona,
Jerusalem, Roma, tapi kota ini pernah menjadi tuan rumah APEC. Bogor menjadi kota idaman dimana kesejukan,
ketenangan, dan keamanannya menjadi 3 kunci utama kota ini sebagai kota super.
Bukanlah sosok metropolitan yang sarat akan perbelanjaan moderen di kala itu.
Namun sosok daerah yang membuat tiap orang nyaman untuk tinggal dan
beristrirahat.Dan itu pun Bogor terkenal dengan ketenangannya dan peradabannya
Buitenzorg
menjadi nama awalnya, dan sejak awalnya memang menjadi tempat peristirahatan Gubernur
Jendral hingga residen Pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf
Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor. Sebelum Buitenzorg, namanya
adalah pakuan, yaitu pusat peradaban Sunda. Ibukota kerajaan Tarumanegara
hingga kerajaan Sunda Galuh. Kalau keratonnya bertempat di daerah yang sekarang
bernama batutulis (BTM ke bawah sampai perempatan kampung arab, belok kiri,
keatas)
Pusat peradaban ini semakin larut dalam pertumbuhan
modernitas tanpa keteraturan. Peradaban adalah dimana sekelompok manusia hidup
dalam keteraturan-ketertiban, ilmu pengetahuan, seni hingga politik. Dan
menurut saya, Kota Bogor semakin hilang akan identitas peradabannya.
Dahulu tahun 1996, jalan tidak semacet sekarang. Angkot
angkot memang sudah cukup banyak, namun tidak separah sekarang kelakuannya. Jika
anda berkendara di Bogor, anda harus tunduk pada raja jalanan: Angkot, karena merekalah yang memiliki
jalan. Anda tidak bisa marah jika ada 10 angkot yang berhenti mengetem di
setiap 300 meter di pinggir jalan. Belum lagi jalan yang semakin menyempit
lantaran pasar kaki lima nan tumpah di trotoar bahkan mencapai 1 meter ke dalam
jalan.
Ekonomi ya ekonomi, mata pencaharian ya mata pencaharian.
Seperti kata kaisar besar Romawi, Trajanus:” Kita harus menetabkan ketertiban
di segala bidang di seluruh kekaisaran”. Ekonomi yang tertib, itulah pemikiran
kuno dari dahulu yang masih relevan hingga sekarang diantara banyak pemikiran
kuno lainnya yang sudah tidak relevan lagi. Pembangunan pusat perbelanjaan di
bibir tol, itulah contoh ketidakteraturan. Lupakanlah soal kota lain yang
berbuat demikian, karena logikanya, janganlah membuat hambatan kolesterol
konsumenitas di ujung nadi aortra Toll (anda yang di bogor pasti tahu maksud
saya tentang pusat perbelanjaan ini). Pembangunan Mall ini membuat kemacetan di
jalur yang hendak menuju ke dalam kota.
Tak jauh dari situ, ada sebuah tugu kebanggaan rakyat tatar
pajajaran, tatar sunda. Simbol keberanian dan civalry untuk para ksatria kuna.
Adalah tugu kujang yang elok(bila konteks zaman dahulu) dan sakti sebagai
identitas kota Bogor: Pusat peradaban Sunda. Namun, keelokannya memang tak
setinggi monas, apalagi obelsik di Washington. Di arah barat daya tugu, kita
bisa melihat lembah ciliwung yang berlatarkan gunung salak. Disanalah, gunung
tempat putri salak tertidur. Tetapi lama kelamaan, berdirilah sebuah hotel yang
menjulang ketinggiannya , hingga menutupi pemandangan tersebut. Lembah pun
berubah menjadi gypsum terukir dari hotel bergaya atap perancis itu(Baroque).
Sungguh hal yang memprihatinkan, merusak pemandangan.
Apakah hal tersebut ada kaitannya dengan permainan kotor
dalam singasana balaikota? Ataukah justru masyarakat dan keadaan sebagai faktor
penyumbang perusak paling dominan? Telinga kita sudah biasa mendengar gaungan
gosip adanya hama tikus dalam lumbung balaikota ini.
KRISIS IDENTITAS
Menurut Yayat Supriyatna, pengamat perkotaan dari
Universitas Trisakti, Bogor sudah mengidap penyakit krisis identitas. Mengapa
bisa disebut demikian? Karena menurut mata telanjang para manusia awam yang
tidak tercemar sarat politik, Identitas Bogor bukan lagi “KOTA HUJAN”. Bogor
telah menjelma menjadi, “KOTA SEJUTA ANGKOT”, atau bisa juga disebut”KOTA
SEJUTA PKL”. Kalau pembaca tidak percaya, lihat dan buktikan langsung dengan
datang ke sini(Bogor). Mungkin Museum Rekor Indonesia akan memberkian penghargaan
rekor sebagai ”Kota dengan angkot Terbanyak”, sungguh terdengar klise. Angkot hijau bertumbuh menjalar layaknya gulma
tetumbuhan. Melebihi taman hijaunya, angkot hijau ini sangat rakus akan ruang
jalan dan menyebabkan kemacetan setiap hari. Bayangkan saja, kemacetan
akan selalu menjadi santapan sehari-hari mengingat Bogor saat ini masih
disesaki oleh 3.412 angkot. Meski menurut Organisasi Angkutan Darat (Organda)
mengalami penyusutan dari tahun-tahun sebelumnya, yakni 3.506 angkot, jumlahnya
tetap melebihi kapasitas daya dukung infrastruktur jalan.
Bogor
dilintasi oleh tiga sarana jalan dengan status dan kualitas jalan negara, jalan
provinsi, dan jalan kota. Jalan negara dengan kondisi baik hanya sepanjang
17.633 kilometer dari total 30.199 kilometer. Sementara jalan provinsi
yang bisa dilewati dengan mulus hanya 10.596 kilometer dari total 26.759
kilometer. Jalan kota dengan kondisi baik sepanjang 129.573 kilometer dari
total 564.193 kilometer. Selebihnya justru dalam kondisi sedang dan buruk.
Kemacetan
itu bak matematika, matematika anak Sekolah Dasar pula. Bilamana Kendaraan
bertambah, jalannya tidak bertambah, maka hasilnya adalah= MACET. Sederhana
bukan? Sesungguhnya, jalan di Bogor mungkin hanya dapat menampung 500 hingga
1500 angkot. Tetapi, nyatanya berbeda jauh
dua kali lipat daripada titik normalnya. Bahkan, jumlah angkot justru
melebihi jumlah warga yang berminat untuk naik angkot, sehingga para supir
angkot berusaha mencari penumpang dengan berlama lama mengetem. Akibatnya, jalanan
menjadi super macet, dan orang semakin enggan naik angkot karena mengetem
terlalu lama. Lihat saja, banyak angkot Bogor yang berlama lama mengetem,
tetapi tetap kosong saja tempat duduknya.
Menurut seorang sopir angkot , satu rit (PP) membutuhkan 2 liter bensin, dengan jumlah penumpang 4-10 orang (sekali jalan/20 orang PP). Dengan ongkos Rp 2.500/orang, maka didapat uang (kurang-lebih) Rp 50.000/rit dikurang bensin dua liter (13.000). Setiap hari dia wajib setoran Rp.250.000 dengan kemampuan 15 rit/hari. Setelah itu keuntungan sisanya baru diambil dan dibagi dengan sopir yang lain. Saat ini ada lebih dari 40 unit angkot 11. Dalam sehari, salah satu sopir mengatakan, dia bisa dapat untung bersih (kurang-lebih) Rp 70.000. Pantas saja mereka berlomba demi setoran dan penghasilan. Hal itu merugikan penumpang dan pengguna jalan
Menurut seorang sopir angkot , satu rit (PP) membutuhkan 2 liter bensin, dengan jumlah penumpang 4-10 orang (sekali jalan/20 orang PP). Dengan ongkos Rp 2.500/orang, maka didapat uang (kurang-lebih) Rp 50.000/rit dikurang bensin dua liter (13.000). Setiap hari dia wajib setoran Rp.250.000 dengan kemampuan 15 rit/hari. Setelah itu keuntungan sisanya baru diambil dan dibagi dengan sopir yang lain. Saat ini ada lebih dari 40 unit angkot 11. Dalam sehari, salah satu sopir mengatakan, dia bisa dapat untung bersih (kurang-lebih) Rp 70.000. Pantas saja mereka berlomba demi setoran dan penghasilan. Hal itu merugikan penumpang dan pengguna jalan
Masalah
lain yang sangat membebani kota yang pernah meraih Adipura Kencana adalah
kehadiran PKL. Mereka memadati setiap sudut kota, terutama di pusat-pusat
bisnis dan aktivitas, seperti Jl Kapten Muslihat, Jl Juanda, Jl Suryakencana,
Jl Pajajaran, Jl Sukasari, dan Jl Merdeka. Para PKL ini membuka lapaknya mulai
pagi hingga pagi kembali.
Pemanfaatan
tata ruang juga kacau balau. Perizinan terus mengalir guna memenuhi hasrat
profit, investasi dan modal besar besaran. Izin izin kerap kali melanggar
pemanfaatan tata ruang yang benar. Contohnya saja pembangunan terminal
Baranangsiang yang diitergrasikan dengan Mall. Menurut logika saya, terminal
yang digabung dengan mall akan membuat kemacetan. Perlu ditegaskan, mall
berbeda dengan kios kios pedagang. Fungsi terminal adalah sebagai kanal/ hulu
dari sarana transportrasi, apabila fungsinya digabungkan dengan pusat
perbelanjaan, maka menjadi tidak ada
fokusnya. Yang ada hanyalah kekacauan lalu lintas belaka. Inilah kesalahan
pemda Bogor saat rezim walikota lama.
Yang
saya ketahui terakhir dari proyek ini(saat tulisan ini dibuat) adalah, walikota
lama(Pak Diani) melempar izin ke walikota baru, kang Bima Arya. Padahal kang
Bima Arya sepemikiran dengan saya, yaitu tidak setuju pembangunan terminal yang
diintergrasikan. Sehingga kontraktor pembangunan proyek tersebut mara marah
karena merasa dipermainkan , dan siap menuntut walikota lama.
SOLUSI:
![]() |
| Contoh Angkot baru di Newyork |
.jpg)
Kalau bisa, lanjutkan dan realisasikan proyek
Monorel ke Puncak, agar jalan puncak tidak macet lagi.
Untuk
masalah PKL, Tegaskan perda pemanfaatan fasilitas pejalan kaki. Tangkap dan
hukum yang melanggar agar jera. Namun, jangan lupa sediakan habitat khusus bagi
para PKL yang sebelumnya meliar di bahana trotoar. Peliharakan mereka dan buat
cagar bagi PKL, agar mereka tetap tidak kehilangan mata pencaharian. Jangan
takut pada para pembandel, aktifkan kembali fungsi pasar tradisional sehingga
mereka memiliki tempat berdagang.
![]() |
| Ini Angkot yang lama |
![]() |
| Bandingkan! Modifikasi, Angkot Bogor Masa depan |
Dan
yang terakhir adalah masalah sampah. Warga Bogor bisa saja enak membuang sampah
tanpa takut banjir, namun dampak sebenarnya adalah pada Jakarta (bener gak?).
Kalau menurut saya, buat panitia yang memberdayakan sungai bersih yang pastinya
dibentuk oleh pemerintah. Nantinya panitia tersebut berupaya menyosialisasikan
cara hidup bersih tiap kelurahan (tentunya menyosialsasikan untuk tidak
membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai). Nantinya pemberdayaan ini
diikuti perda mewajibkan tiap kelurahan untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Tiap berapa bulan akan ada sidak. Kalau melanggar akan ada konsekuensinya.
Konsekuensinya mungkin bisa denda yang sangat besar, atau kewajiban
membersihkan sungai hingga benar benar bersih
Akhir
kata, semoga walikota yang baru bisa mirip Jokowi-Ahok.. (Amin) Dan hikayat ini tak selamanya jadi hikayat







Walikotanya main terus sama ABG, Kader PKS sih, Partai Kekacauan Sistemik
BalasHapus