Heloo

Minggu, 12 Januari 2014

HIKAYAT PAJAJARAN: MASALAH KOTA BOGOR

HIKAYAT PAJAJARAN

Kali ini, saya akan membahas keprihatinan saya terhadap kampung halaman saya. Kampung halaman,,,, kampung halaman, hometown..... oh malangnya....

Cao Cao yang mendengar kemahiran Hua Tuo kemudian mengutus bawahannya untuk meminta Hua Tuo menyembuhkan sakit kepala menahun yang dideritanya. Namun, Hua Tuo tidak suka berdiam diri di istana karena rindu kampung halaman dan kebebasan berkelana ke sana kemari.

 Itulah sepenggal kisah Hua Tuo dari cina, sesosok tabib terkenal di masa Tiga Negara.
Dari kampung halaman daerah Scytia-Asia Kecil, Eumenes (sang menteri dari Alexander Agung) selalu dirindukannya meski ditengah deskriminasi Makedonia. Kampung halaman memang tempat yang paling nyaman, dan menimbulkan nostalgia masa kecil.

10 10 1994, Saya dilahirkan di Kota Bogor, 40 km di selatan Jakarta. Saat itulah, Bogor menjadi kota yang nyaman. Memang bukanlah kota suci seperti Madinah, Pampilona, Jerusalem, Roma, tapi kota ini pernah menjadi tuan rumah APEC.  Bogor menjadi kota idaman dimana kesejukan, ketenangan, dan keamanannya menjadi 3 kunci utama kota ini sebagai kota super. Bukanlah sosok metropolitan yang sarat akan perbelanjaan moderen di kala itu. Namun sosok daerah yang membuat tiap orang nyaman untuk tinggal dan beristrirahat.Dan itu pun Bogor terkenal dengan ketenangannya dan peradabannya
Buitenzorg menjadi nama awalnya, dan sejak awalnya memang menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jendral hingga residen Pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor. Sebelum Buitenzorg, namanya adalah pakuan, yaitu pusat peradaban Sunda. Ibukota kerajaan Tarumanegara hingga kerajaan Sunda Galuh. Kalau keratonnya bertempat di daerah yang sekarang bernama batutulis (BTM ke bawah sampai perempatan kampung arab, belok kiri, keatas)

Pusat peradaban ini semakin larut dalam pertumbuhan modernitas tanpa keteraturan. Peradaban adalah dimana sekelompok manusia hidup dalam keteraturan-ketertiban, ilmu pengetahuan, seni hingga politik. Dan menurut saya, Kota Bogor semakin hilang akan identitas peradabannya.

Dahulu tahun 1996, jalan tidak semacet sekarang. Angkot angkot memang sudah cukup banyak, namun tidak separah sekarang kelakuannya. Jika anda berkendara di Bogor, anda harus tunduk pada raja jalanan: Angkot, karena merekalah yang memiliki jalan. Anda tidak bisa marah jika ada 10 angkot yang berhenti mengetem di setiap 300 meter di pinggir jalan. Belum lagi jalan yang semakin menyempit lantaran pasar kaki lima nan tumpah di trotoar bahkan mencapai 1 meter ke dalam jalan.

Ekonomi ya ekonomi, mata pencaharian ya mata pencaharian. Seperti kata kaisar besar Romawi, Trajanus:” Kita harus menetabkan ketertiban di segala bidang di seluruh kekaisaran”. Ekonomi yang tertib, itulah pemikiran kuno dari dahulu yang masih relevan hingga sekarang diantara banyak pemikiran kuno lainnya yang sudah tidak relevan lagi. Pembangunan pusat perbelanjaan di bibir tol, itulah contoh ketidakteraturan. Lupakanlah soal kota lain yang berbuat demikian, karena logikanya, janganlah membuat hambatan kolesterol konsumenitas di ujung nadi aortra Toll (anda yang di bogor pasti tahu maksud saya tentang pusat perbelanjaan ini). Pembangunan Mall ini membuat kemacetan di jalur yang hendak menuju ke dalam kota.
Tak jauh dari situ, ada sebuah tugu kebanggaan rakyat tatar pajajaran, tatar sunda. Simbol keberanian dan civalry untuk para ksatria kuna. Adalah tugu kujang yang elok(bila konteks zaman dahulu) dan sakti sebagai identitas kota Bogor: Pusat peradaban Sunda. Namun, keelokannya memang tak setinggi monas, apalagi obelsik di Washington. Di arah barat daya tugu, kita bisa melihat lembah ciliwung yang berlatarkan gunung salak. Disanalah, gunung tempat putri salak tertidur. Tetapi lama kelamaan, berdirilah sebuah hotel yang menjulang ketinggiannya , hingga menutupi pemandangan tersebut. Lembah pun berubah menjadi gypsum terukir dari hotel bergaya atap perancis itu(Baroque). Sungguh hal yang memprihatinkan, merusak pemandangan.

Apakah hal tersebut ada kaitannya dengan permainan kotor dalam singasana balaikota? Ataukah justru masyarakat dan keadaan sebagai faktor penyumbang perusak paling dominan? Telinga kita sudah biasa mendengar gaungan gosip adanya hama tikus dalam lumbung balaikota ini.
KRISIS IDENTITAS

Hijau, Tumbuh, Tetapi bukan tanaman


Menurut Yayat Supriyatna, pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Bogor sudah mengidap penyakit krisis identitas. Mengapa bisa disebut demikian? Karena menurut mata telanjang para manusia awam yang tidak tercemar sarat politik, Identitas Bogor bukan lagi “KOTA HUJAN”. Bogor telah menjelma menjadi, “KOTA SEJUTA ANGKOT”, atau bisa juga disebut”KOTA SEJUTA PKL”. Kalau pembaca tidak percaya, lihat dan buktikan langsung dengan datang ke sini(Bogor). Mungkin Museum Rekor Indonesia akan memberkian penghargaan rekor sebagai ”Kota dengan angkot Terbanyak”, sungguh terdengar klise.  Angkot hijau bertumbuh menjalar layaknya gulma tetumbuhan. Melebihi taman hijaunya, angkot hijau ini sangat rakus akan ruang jalan dan menyebabkan kemacetan setiap hari.  Bayangkan saja, kemacetan akan selalu menjadi santapan sehari-hari mengingat Bogor saat ini masih disesaki oleh 3.412 angkot. Meski menurut Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengalami penyusutan dari tahun-tahun sebelumnya, yakni 3.506 angkot, jumlahnya tetap melebihi kapasitas daya dukung infrastruktur jalan.

Bogor dilintasi oleh tiga sarana jalan dengan status dan kualitas jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kota. Jalan negara dengan kondisi baik hanya sepanjang 17.633 kilometer dari total 30.199 kilometer. Sementara jalan provinsi yang bisa dilewati dengan mulus hanya 10.596 kilometer dari total 26.759 kilometer. Jalan kota dengan kondisi baik sepanjang 129.573 kilometer dari total 564.193 kilometer. Selebihnya justru dalam kondisi sedang dan buruk.

Kemacetan itu bak matematika, matematika anak Sekolah Dasar pula. Bilamana Kendaraan bertambah, jalannya tidak bertambah, maka hasilnya adalah= MACET. Sederhana bukan? Sesungguhnya, jalan di Bogor mungkin hanya dapat menampung 500 hingga 1500 angkot. Tetapi, nyatanya berbeda jauh  dua kali lipat daripada titik normalnya. Bahkan, jumlah angkot justru melebihi jumlah warga yang berminat untuk naik angkot, sehingga para supir angkot berusaha mencari penumpang dengan berlama lama mengetem. Akibatnya, jalanan menjadi super macet, dan orang semakin enggan naik angkot karena mengetem terlalu lama. Lihat saja, banyak angkot Bogor yang berlama lama mengetem, tetapi tetap kosong saja tempat duduknya. 
Menurut seorang sopir angkot , satu rit (PP) membutuhkan 2 liter bensin, dengan jumlah penumpang 4-10 orang (sekali jalan/20 orang PP). Dengan ongkos Rp 2.500/orang, maka didapat uang (kurang-lebih) Rp 50.000/rit dikurang bensin dua liter (13.000). Setiap hari dia wajib setoran Rp.250.000 dengan kemampuan 15 rit/hari. Setelah itu keuntungan sisanya baru diambil dan dibagi dengan sopir yang lain. Saat ini ada lebih dari 40 unit angkot 11. Dalam sehari, salah satu sopir mengatakan, dia bisa dapat untung bersih (kurang-lebih) Rp 70.000. Pantas saja mereka berlomba demi setoran dan penghasilan. Hal itu merugikan penumpang dan pengguna jalan

Masalah lain yang sangat membebani kota yang pernah meraih Adipura Kencana adalah kehadiran PKL. Mereka memadati setiap sudut kota, terutama di pusat-pusat bisnis dan aktivitas, seperti Jl Kapten Muslihat, Jl Juanda, Jl Suryakencana, Jl Pajajaran, Jl Sukasari, dan Jl Merdeka. Para PKL ini membuka lapaknya mulai pagi hingga pagi kembali.
Terminal Baranangsiang yang Baru, yang kontroversial

Pemanfaatan tata ruang juga kacau balau. Perizinan terus mengalir guna memenuhi hasrat profit, investasi dan modal besar besaran. Izin izin kerap kali melanggar pemanfaatan tata ruang yang benar. Contohnya saja pembangunan terminal Baranangsiang yang diitergrasikan dengan Mall. Menurut logika saya, terminal yang digabung dengan mall akan membuat kemacetan. Perlu ditegaskan, mall berbeda dengan kios kios pedagang. Fungsi terminal adalah sebagai kanal/ hulu dari sarana transportrasi, apabila fungsinya digabungkan dengan pusat perbelanjaan,  maka menjadi tidak ada fokusnya. Yang ada hanyalah kekacauan lalu lintas belaka. Inilah kesalahan pemda Bogor saat rezim walikota lama.
Yang saya ketahui terakhir dari proyek ini(saat tulisan ini dibuat) adalah, walikota lama(Pak Diani) melempar izin ke walikota baru, kang Bima Arya. Padahal kang Bima Arya sepemikiran dengan saya, yaitu tidak setuju pembangunan terminal yang diintergrasikan. Sehingga kontraktor pembangunan proyek tersebut mara marah karena merasa dipermainkan , dan siap menuntut walikota lama.

SOLUSI:
Contoh Angkot baru di Newyork
Sudah saatnya warga Kota Bogor memiliki transportrasi yang layak dan kalau bisa ramah lingkungan. Dengan dibangunya shelter atau anjungan-anjungan tempat angkot berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. Angkot mungkin lebih diremajakan dan dikurangi jumlahnya, namun diperbesar kapasitasnya seperti menggunakan mobil Colt, Travello, dan yang sespesies lainnya. Ubah sistem penyetoran tiap supir angkot agar tidak terjadi kompetisi yang justru merugikan penumpang dan pengguna jalan.  Lalu aktifkan kembali Trans Pakuan agar warga warga suburban(seperti sentul, leuwiliang, citeureup, cisarua, dll) bisa dengan mudah berpergian ke pusat Kota Bogor. Nah... nantinya angkot bisa berfungsi sebagai feeder dari bus trans pakuan dan bus lainnya



 Kalau bisa, lanjutkan dan realisasikan proyek Monorel ke Puncak, agar jalan puncak tidak macet lagi.
Untuk masalah PKL, Tegaskan perda pemanfaatan fasilitas pejalan kaki. Tangkap dan hukum yang melanggar agar jera. Namun, jangan lupa sediakan habitat khusus bagi para PKL yang sebelumnya meliar di bahana trotoar. Peliharakan mereka dan buat cagar bagi PKL, agar mereka tetap tidak kehilangan mata pencaharian. Jangan takut pada para pembandel, aktifkan kembali fungsi pasar tradisional sehingga mereka memiliki tempat berdagang.
Ini Angkot yang lama

Bandingkan! Modifikasi, Angkot Bogor Masa depan


Dan yang terakhir adalah masalah sampah. Warga Bogor bisa saja enak membuang sampah tanpa takut banjir, namun dampak sebenarnya adalah pada Jakarta (bener gak?). Kalau menurut saya, buat panitia yang memberdayakan sungai bersih yang pastinya dibentuk oleh pemerintah. Nantinya panitia tersebut berupaya menyosialisasikan cara hidup bersih tiap kelurahan (tentunya menyosialsasikan untuk tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai). Nantinya pemberdayaan ini diikuti perda mewajibkan tiap kelurahan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Tiap berapa bulan akan ada sidak. Kalau melanggar akan ada konsekuensinya. Konsekuensinya mungkin bisa denda yang sangat besar, atau kewajiban membersihkan sungai hingga benar benar bersih

Komunitas Ciliwung


Akhir kata, semoga walikota yang baru bisa mirip Jokowi-Ahok.. (Amin) Dan hikayat ini tak selamanya jadi hikayat


1 komentar:

  1. Walikotanya main terus sama ABG, Kader PKS sih, Partai Kekacauan Sistemik

    BalasHapus