Kali ini saya akan membahas masalah propaganda jelang
pemilu. Namun meskipun demikian, topik kali ini masih saja berkaitan dengan
opini saya, dan saya ini masih sebagai pemilih yang belum berpengalaman(karena
emang belom pernah milih ).
Kalau para pembaca ini sering melihat televisi, pastinya hafal dengan berbagai
program yang ditayangkan tiap stasiun televisi. Apapun selera anda, pasti anda
tidak jauh dengan remote tv, karena dikala iklan mengudara pastinya anda akan
berusaha mengganti ganti saluran demi mencari tayangan yang mungkin lagi bukan
iklan. Dan pastinya para pembaca mengerti iklan iklan yang berbau pemilu. Jika
para pembaca melihat biasa, anda akan berfikiran bahwa iklan jari parpol itu
bisa jadi janji manis atau teknik marketing soal politik. Sah sah saja
sebenarnya iklan mereka itu. Namun dikala stasiun tv mengudarakan iklan, mereka
memiliki kedok di belakang ini semua.
Coba sebutkan saja capres/ cawapres yang memiliki stasiun tv. Pasti anda sudah
tahu hal ini dari dahulu.
1. Stasiun tv dari MNC Grup: RCTI, TPI yang dimiliki oleh Harry Tanoesudibyo
yang adalah calon wapres dari Partai HANURA
2. Stasiun tvONE, ANTV dimiliki oleh Aburizal Bakrie, capres dari Partai Golkar
3. Metrotv oleh Surya paloh dari partai Nasdem
Lalu Indosiar dan Trans cenderung ke partai Demokrat
Saat anda nonton berita, coba anda serapi. Berita apakah
itu? Apakah Propaganda atau sekedar sajian belaka? Saya pernah menonton di
salah satu televisi(gak usah saya sebutkan namanya), pada saat tayangan berita,
mereka membahas tentang kebusukan 2 partai tentang kampanye yang melibatkan
anak kecil dan pemasangan spanduk liar. Besok harinya, mereka membahas lagi
tentang 3 partai lainnya, dan kebusukan kebusukannya. Tapi kemudian mereka
membahas partai yang menjadi pihaknya(dalam arti ini, partai tersebut dimiliki
oleh pemilik stasiun tv tersebut), dan dibagus baguskan. Itu sangat kelihatan
propaganda dan dapat mempengaruhi penonton2 yang emosional. Contohnya saja
mereka menjelek jelekan SBY dan partainya, dengan penyakit korupsi partai
tersebut dan janji janji palsunya. Stasiun tv itu selalu saja menjelek jelekan
pak SBY, dan bukan hanya pak SBY, Semua dijelek jelekkan, kecuali capres yang
memiliki stasiun tv tersebut.
Nahhh...
Ini dia, menurut saya orang orang indonesia itu mudah untuk
dipanas panasi. Lagipula, sebagian besar penikmat tv(yang sering nonton tv) adalah masyarakat masyarakat kecil yang mudah
dibodohi.
Televisi Mempunyai bahaya bagi Demokrasi khususnya
menjelang PEMILU, karena:
1. Informasi politik dan suasana terkini negara
mayoritas diperoleh rakyat dari Televisi
2. Realitas kepemilikan televisi oleh
partai/pengusaha yang dapat memblocking program untuk membuat acara untuk
kepentingannya
3. Berita dan peristiwa yang melibatkan pemilik
TV/ketua Parpol akan mendapat porsi siar tinggi (durasi) siaran berita, siaran
langsung—dan ini tidak dapat disensor
Kali ini saya akan membahas masalah propaganda jelang
pemilu. Namun meskipun demikian, topik kali ini masih saja berkaitan dengan
opini saya, dan saya ini masih sebagai pemilih yang belum berpengalaman(karena
emang belom pernah milih ).
Kalau para pembaca ini sering melihat televisi, pastinya hafal dengan berbagai program yang ditayangkan tiap stasiun televisi. Apapun selera anda, pasti anda tidak jauh dengan remote tv, karena dikala iklan mengudara pastinya anda akan berusaha mengganti ganti saluran demi mencari tayangan yang mungkin lagi bukan iklan. Dan pastinya para pembaca mengerti iklan iklan yang berbau pemilu. Jika para pembaca melihat biasa, anda akan berfikiran bahwa iklan jari parpol itu bisa jadi janji manis atau teknik marketing soal politik. Sah sah saja sebenarnya iklan mereka itu. Namun dikala stasiun tv mengudarakan iklan, mereka memiliki kedok di belakang ini semua.
Coba sebutkan saja capres/ cawapres yang memiliki stasiun tv. Pasti anda sudah tahu hal ini dari dahulu.
1. Stasiun tv dari MNC Grup: RCTI, TPI yang dimiliki oleh Harry Tanoesudibyo yang adalah calon wapres dari Partai HANURA
2. Stasiun tvONE, ANTV dimiliki oleh Aburizal Bakrie, capres dari Partai Golkar
3. Metrotv oleh Surya paloh dari partai Nasdem
Kalau para pembaca ini sering melihat televisi, pastinya hafal dengan berbagai program yang ditayangkan tiap stasiun televisi. Apapun selera anda, pasti anda tidak jauh dengan remote tv, karena dikala iklan mengudara pastinya anda akan berusaha mengganti ganti saluran demi mencari tayangan yang mungkin lagi bukan iklan. Dan pastinya para pembaca mengerti iklan iklan yang berbau pemilu. Jika para pembaca melihat biasa, anda akan berfikiran bahwa iklan jari parpol itu bisa jadi janji manis atau teknik marketing soal politik. Sah sah saja sebenarnya iklan mereka itu. Namun dikala stasiun tv mengudarakan iklan, mereka memiliki kedok di belakang ini semua.
Coba sebutkan saja capres/ cawapres yang memiliki stasiun tv. Pasti anda sudah tahu hal ini dari dahulu.
1. Stasiun tv dari MNC Grup: RCTI, TPI yang dimiliki oleh Harry Tanoesudibyo yang adalah calon wapres dari Partai HANURA
2. Stasiun tvONE, ANTV dimiliki oleh Aburizal Bakrie, capres dari Partai Golkar
3. Metrotv oleh Surya paloh dari partai Nasdem
Lalu Indosiar dan Trans cenderung ke partai Demokrat
Saat anda nonton berita, coba anda serapi. Berita apakah
itu? Apakah Propaganda atau sekedar sajian belaka? Saya pernah menonton di
salah satu televisi(gak usah saya sebutkan namanya), pada saat tayangan berita,
mereka membahas tentang kebusukan 2 partai tentang kampanye yang melibatkan
anak kecil dan pemasangan spanduk liar. Besok harinya, mereka membahas lagi
tentang 3 partai lainnya, dan kebusukan kebusukannya. Tapi kemudian mereka
membahas partai yang menjadi pihaknya(dalam arti ini, partai tersebut dimiliki
oleh pemilik stasiun tv tersebut), dan dibagus baguskan. Itu sangat kelihatan
propaganda dan dapat mempengaruhi penonton2 yang emosional. Contohnya saja
mereka menjelek jelekan SBY dan partainya, dengan penyakit korupsi partai
tersebut dan janji janji palsunya. Stasiun tv itu selalu saja menjelek jelekan
pak SBY, dan bukan hanya pak SBY, Semua dijelek jelekkan, kecuali capres yang
memiliki stasiun tv tersebut.
Nahhh...
Ini dia, menurut saya orang orang indonesia itu mudah untuk
dipanas panasi. Lagipula, sebagian besar penikmat tv(yang sering nonton tv) adalah masyarakat masyarakat kecil yang mudah
dibodohi.
Televisi Mempunyai bahaya bagi Demokrasi khususnya
menjelang PEMILU, karena:
1. Informasi politik dan suasana terkini negara mayoritas diperoleh rakyat dari Televisi
2. Realitas kepemilikan televisi oleh partai/pengusaha yang dapat memblocking program untuk membuat acara untuk kepentingannya
3. Berita dan peristiwa yang melibatkan pemilik TV/ketua Parpol akan mendapat porsi siar tinggi (durasi) siaran berita, siaran langsung—dan ini tidak dapat disensor
1. Informasi politik dan suasana terkini negara mayoritas diperoleh rakyat dari Televisi
2. Realitas kepemilikan televisi oleh partai/pengusaha yang dapat memblocking program untuk membuat acara untuk kepentingannya
3. Berita dan peristiwa yang melibatkan pemilik TV/ketua Parpol akan mendapat porsi siar tinggi (durasi) siaran berita, siaran langsung—dan ini tidak dapat disensor


